“Aku Tidak Tahu”

Tanda Tanya ?

Tanda Tanya ?

Wahai saudaraku, sesungguhnya termasuk dari kecerdasan dan keimanan seseorang serta taqwa dan bentuk pengagungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yaitu bila seseorang berkata terhadap perkara yang ia tidak tahu “Aku tidak tahu” atau “Tanyalah pada selainku”. Itu merupakan kecerdasan yang sempurna, karena manusia ketika mereka melihat keteguhanmu, maka mereka akan mempercayaimu, karena mereka mengetahui kadar dirinya sehingga ia meletakkan syariat itu kepada kedudukannya.

Merupakan kesempurnaan iman dan taqwa seorang hamba kepada Allah adalah ketika ia tidak lancang terhadap Rabbnya dengan tidak berkata mengenai agama-Nya saat ia tidak tahu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba yang paling mengerti tentang Agama Allah, beliau ketika ditanya tentang suatu perkara yang beliau tidak tahu dan tidak turun padanya wahyu, maka beliau menunggu sampai diturunkan wahyu, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjawab perkara yang ditanyakan kepada beliau:

“Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia” (Al A’raaf: 186).

Para shahabat yang mulia ketika mereka dihadapkan kepada sebuah masalah yang mereka tidak tahu hukum Allah atasnya, mereka khawatir memberikan jawaban pada masalah tersebut dan mereka tawaqquf (mendiamkan, belum bisa mengatakan boleh atau tidak) padanya. Inilah Abu Bakr Ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu berkata “Langit mana yang akan menaungiku, bumi mana yang aku pijak jika aku mengatakan tentang Kitabullah tanpa ilmu”.

Inilah Umar Ibnul Khattab radhiyallahu ‘anhu ketika terjadi suatu peristiwa yang baru maka dia mengumpulkan para shahabat dan mengajak mereka bermusyawarah tentang peristiwa itu. Ibnu Sirin berkata: “Tidak ada orang yang lebih takut terhadap suatu perkara yang ia tidak tahu kecuali Abu Bakr. Tidak ada seorangpun yang lebih takut setelah Abu Bakr pada perkara yang tidak tahu kecuali Umar”.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai manusia, barangsiapa yang ditanya tentang ilmu yang ia mengetahuinya, hendaklah ia jawab. Barangsiapa yang tidak memiliki ilmu tentangnya, hendaklah ia mengatakan “Allohu a’lam” (Alloh yang lebih tahu). Sesungguhnya termasuk dari ilmu adalah seseorang ketika ditanya tentang sesuatu yang ia tidak mengetahui mengatakan “Allohu a’lam”.

Imam Asy-Sya’bi ditanya tentang suatu masalah ia menjawab: “Aku tidak mengetahuinya” Maka shahabatnya berkata: “Engkau telah mempermalukan kami”. Maka Imam Asy-Sya’bi berkata “Tetapi para malaikat tidak malu ketika mereka berkata: “Tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah engkau ajarkan kepada kami” (Al-Baqarah: 32)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab wal ilmu ‘indallah

Diambil dari Kitabul ‘Ilmi karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s