ISLAMIC AND EDUCATION CENTER ABDURRAHMAN BIN 'AUF INSTITUTE

Adakah Anak Yang Tidak Nakal…???

Islamic And Education Center Abdurrahman bin 'Auf Institute

Islamic And Education Center Abdurrahman bin 'Auf Institute

Misalnya, kalau tiba-tiba usai mengikuti acara pengajian, sebelah sandal anda “berjalan sendiri” ke selokan. Dan si “perusuh” cilik bergigi ompong itu cekikikan di kejauhan, niscaya itu bukan sama sekali cermin kenakalan anak-anak. Juga, bila seorang guru muda yang mengajar Bahasa Indonesia misalnya mendapati muridnya yang satu sedang asik melipat-lipat kertas, yang lain menggambar, satunya lagi ngumpet di kolong meja, padahal saat itu dia sedang menerangkan pelajaran, jelas itu bukan cermin kenakalan anak-anak. Atau, bila mereka jadi gemar olahraga “bela diri” dengan cara menebas persendian kawan-kawannya sendiri, semoga, ya sedikitnya kita berdoa, bahwa itu bukanlah refleksi dari sifat nakal anak-anak. Atau, yang terakhir, bila ternyata perbendaharaan kosa kata mereka mencakup pula kata-kata yang dalam takaran orang dewasa terbilang “kotor,” dan “jorok” –pasti itu disebabkan pengaruh luar. Bukan dari diri mereka sendiri.

Anak-anak itu murni. Anak-anak itu suci, bak kertas putih yang belum ditulis. Setidaknya, kenakalan itu bukan “murni” kesalahan mereka.

Kalau ada kenakalan, pasti itu lantaran pengaruh lingkungan, atau campur tangan pihak lain: lingkungan tinggal, tetangga, dan sangat mungkin juga, orang tua.

“Orang tua yang paling bertanggung jawab dalam hal ini,” jelas Al-Ustadz Mursalin Dahlan, Lc sembari mengutip hadits kullu maulidin yuladu alal fithrah yang masyhur itu. Setiap anak dilahirkan di atas fitrah (Islam), akan tetapi orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi.

Di dalam beberapa hadits Rasulullah Sholallohu ‘alihi wa sallam disebutkan bahwa akan datang suatu zaman di mana fitnah berkobar-kobar dengan dahsyatnya, sehingga orang yang terbaik saat itu ialah seseorang yang menggembala kambing di sumber-sumber air di bebukit yang terpencil. Mereka menghindar dari pergaulan masyarakat yang rusak demi menyelamatkan agama mereka. Namun demikian, yang terbaik, masih mengutip Ustadz Mursalin, adalah mereka yang tetap bergaul dan berbaur dengan masyarakat seraya bersabar menghadapi gangguan mereka.

Dari sini, anak-anak yang tinggal dan dibesarkan di lingkungan tinggal yang buruk, tak pelak terpengaruh pula oleh dampak negatif pergaulan sekitar, dari teve, musik, film, dan polah tingkah orang dewasa yang tidak patut.

Ustadz Mursalin menyarankan bagi orang tua yang mampu hendaknya tetap memanfaatkan fasilitas-fasilitas hiburan dan teknologi informasi yang mendidik dengan muatan-muatan islami. “Kalau punya CD player bisa dibelikan cd-cd kajian atau Al-Qur`an khusus untuk anak-anak,” ujar beliau. Karena al-wasa`il laha ahkamul maqashid, sarana itu dihukumi seperti maksud dan tujuannya, kata beliau mengutip sebuah kaidah ushul.

Bagaimana dengan kejenuhan belajar? Jadwal yang penuh padat namun dikemas dengan santai dari sejak ba’da subuh hingga isya di asrama yang itu-itu juga, mungkin membuat sebagian siswa jadi “stres” dan bertingkah yang tidak-tidak. Sekali lagi, “yang tidak-tidak” itu adalah dari sudut pandang orang dewasa. Bil khusus, para pengurus sekolah.

“Anak-anak hanya butuh bimbingan serta pengawasan dan  alat bermain untuk mengalihkan perhatian mereka,” ungkap Ustadz Asas. Atas dasar itulah maka dua buah congklak plastik, dengan bulir-bulir congklak dari plastik pula, lumayan mengalihkan perhatian anak-anak beberapa saat dari kegiatan “bela diri” antar sesama teman sendiri.

Sayang, beberapa hari kemudian dua buah congklak itu sudah ditelantarkan. Bulir-bulirnya bertebaran entah ke mana. Satu tabiat yang mesti dicatat terdapat pada diri anak-anak: mereka pembosan kelas berat.

Lantas tibalah satu lagi mainan canggih baru. Salah seorang orang tua siswa membelikan track mobil-mobilan seperti di dalam foto. Anak-anak lumayan asyik dengan mainan ini, di mana beberapa mobil-mobilan kecil melaju kencang melingkar secara akrobatik di track buatan yang meliuk-liuk laksana roller coaster. Syamil, sang empunya mainan dirubung kawan-kawannya yang mendelik takjub pada mainan ajaib itu. Sayangnya, hal ini hanya berlangsung selama dua-tiga hari. Mobil-mobilan bersama track-nya “parkir” dan “menganggur” berhari-hari lamanya di kamar tamu kantor staf ABA.

Mungkin, tak-tik yang digunakan Ustadz Asas untuk meredam “kenakalan” anak-anak bisa disebut metode pengalihan perhatian. Sebelum kebijakan membeli congklak, sekolah sudah membolehkan siswa yang punya sepeda membawa sepedanya ke sekolah. Mereka boleh bersepeda di jam-jam istirahat.

Ditambah lagi beberapa buah bola sepak yang bulan-bulanan dihajar untuk melambung setinggi-tingginya di tengah-tengah komplek perumahan. Plus, satu set raket badminton beserta shuttle cock, untuk ammi pengasuh dan siswa-siswa bermain bulu tangkis di sore yang teduh

“Pengayaan” kosa kata dan peningkatan frekuensi “kenakalan” anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang tua dan sekolah. Waktu-waktu libur (Jum’at, Sabtu, Ahad) di dua pekan per bulannya hendaknya menjadi sarana penguatan apa yang diperoleh di sekolah. Sementara itu sekolah terus menerus berada dalam posisi strategis meredam pengaruh-pengaruh negatif lingkungan rumah dan masyarakat, yang belum sepenuhnya sinergis dengan misi sekolah.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s